Sabtu, 16 Desember 2017

Manajemen Perpustakaan

A.    MANAJEMEN PERPUSTAKAAN
1.      Pengertian Manajemen Perpustakaan
Sebelum kita membahas lebih jauh tentang manajemen perpustakaan secara keseluruhan, penulis akan menjelaskan terlebih dahulu tentang manajemen itu sendiri menurut para pakar.
Banyak ahli yang telah mengupas makna dari istilah manajemen. Menurut Samsudin, kata manajemen berasal dari bahasa inggris yaitu management yang berarti mengatur atau mengelolah. James F.Stoner menyebutkan bahwa manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan para anggota dan sumberdaya lainnya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.[18]
Manajemen dapat juga dipandang sebagai profesi karena manajemen dilandasi oleh keahlian khusus untuk mencapaisuatu profesi di mana manajer dan tenaga profesional dituntut oleh suatu kode etik untuk mengarahkan suatu organisasi untuk mencapai tujuan. Bahkan kesuksesan organisasi sangat ditentukan dengan pemanduan semua sumber daya oleh seorang pemimpin yang profesional. Georgi R. Terry (1997: 4) mendefinisi tentang manajemen sebagai berikut: management is a distinct process consisting of planing, organizing, actuating, and controlling performed to determine and accomplish state objectivie by the use human being and another resouces (manajemen adalah suatu proses yang khas terdiri dari tindakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pengendalian yang dilakukan dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan melalui pemanfaatan sumberdaya manusia dan sumber-sumber lainnya).[19]
Dalam Encylopedia of the Social Sience dikatakan bahwa manajemen adalah proses pelaksanaan program untuk mencapai tujuan tertentu yang diselengarakan dan diawasi.[20]
Sementara itu dalam pandangan Sulistyo Basuki, perpustakaan adalah sebuah ruangan, bagian sebuah gedung, ataupun gedung yang digunakan untuk menyimpan buku dan terbitan lainnya. Biasanya, buku tersebut disimpan menurut tata susunan terrtentu untuk digunakan oleh pembaca, bukan untuk dijual.[21]
Sebagai sebuah istilah, perpustakaan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya tempat, gedung, ruang yang disediakan untuk pemeliharaan dan penggunaan koleksi buku dan sebagainya. Atau arti kedua, yaitu koleksi buku, majalah dan bahan kepustakaan lain yang disimpan untuk dibaca, dipelajari, dan dibicarakan.[22]
Sedangkan menurut kamus The Oxford English Dictionary, kata library atau perpustakaan mulai digunakan dalam bahasa inggris pada tahun 1374, yang berarti sebagai suatu tempat buku-buku diatur untuk dibaca, dipelajari atau dipakai sebagai bahan rujukan.
Pengertian perpustakaan ini pada abad ke-19 berkembang menjadi suatu gedung, ruangan atau sejumlah ruangan yang berisi koleksi buku yang dipelihara dengan baik, dapat digunakan oleh masyarakat tertentu.[23]
Pada tahun 1970, The American Library Association menggunakan istilah perpustakaan untuk suatu pengertian yang luas yaitu termasuk pengertian pusat media, pusat belajar, pusat sumber pendidikan, pusat informasi, pusat dokumentasi, dan pusat rujukan.
Pengertian perpustakaan yang mutakhir ini telah mengarah kepada tiga hal yang mendasar sekaligus, yaitu hakikat perpustakaan sebagai salah satu sarana pelestarian bahan pustaka; fungsi perpustakaan sebagai sumber informasi ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebudayaan; serta bertujuan sebagai sarana untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan menunjang pembangunan nasional.[24]
Dari pengertian-pengertian tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa manajemen perpustakaan adalah proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber daya lainnya untuk dapat mengelola bahan pustaka baik berupa buku maupun non buku sehingga dapat digunakan sebagai bahan informasi oleh setiap pemakainya.

2.      Fungsi Manajemen Perpustakaan
Seperti yang telah diketahui bersama dari pengertian manajemen perpustakaan  maka dapat diketahui fungsi dari manajemen perpustakaan itu sendiri, yaitu:
a.      Planing (perencanaan)
Perencanaan merupakan titik awal berbagai aktivitas organisasi yang sangat menentukan keberhasilan organisasi. Menurut Ara Hidayat dan  Imam Mahali, perencanaan merupakan fungsi yang paling awal dari keseluruhan fungsi manajemen sebagaimana banyak dikemukakan oleh para ahli.[25]
Pentingnya perencanaan bagi suatu perpustakaan sekolah disebabkan karena hal-hal berikut:
1)                     Perencanaan merupakan dasar pelaksanaan aktivitas. Pimpinan perpustakaan tidak akan mampu melaksanakan fungsi manajemen dan kepemimpinan dengan baik tanpa perencanaan yang sudah ditetapkan.
2)                     Perencanaan merupakan alat pengawasan. Pengawasan sebenarnya merupakan upaya sistematis untuk menetapkan standar prestasi sesungguhnya dengan standar yang telah ditetapkan. Dengan adanya perencanaan akan diketahui adanya penyimpangan langkah yang kemudian dapat dilakukan pengukuran signifikasi penyimpangan itu.  Oleh karena itu pengawasan harus didasarkan pada perencanaan. Perencanaan yang jelas, lengkap, dan terpadu akan mampu meningkatkan efektivitas pengawasan.
3)                     Perencanaan yang proporsional akan membawa efektivitas dan efisiensi. Dengan adanya perencanaan, seorang pimpinan perpustakaan akan berusaha untuk mencapai tujuan dengan biaya yang paling kecil dan menghasilkan produk (barang dan/atau jasa) yang lebih besar.[26]
b.      Organizing (pengorganisasian)
Proses pengorganisasian suatu perpustakaan akan berjalan dengan baik apabila memiliki sumber daya, sumber dana, prosedur, koordinasi, dan pengarahan pada langkah-langkah tertentu. Koordinasi di sini maknanya adalah proses pengintegrasian tujuan-tujuan pada satuan yang terpisah dalam suatu lembaga untuk mencapai tujuan lembaga atau perpustakaan secara efisien.[27]
Pengorganisasian merupakan penyatuan langkah dari seluruh kegiatan yang  akan dilaksanakan. Penyatuan langkah ini sangat penting, agar tidak terjadi tumpang tindih dalam pelaksanaan tugas. Proses mengorganisasikan sebuah perpustakaan akan berjalan dengan baik apabila memiliki SDM, sumber dana, prosedur, dan adanya koordinasi pada langkah-langkah tertentu untuk mencapai pelaksanaan yang harmonis. Kemudian pengarahan merupakan penugasan untuk mengambil tindakan tertentu yang tertuju pada usaha pencapaian tujuan perpustakaan sekolah. Untuk itu dibutuhkan seorang pimpinan perpustakaan yang perpengetahuan dan berwawasan luas dalam bidang perpustakaan sekolah untuk memberikan pengarahan yang jelas pada sasaran.[28]
Sumber daya manusia perpustakaan sekolah dimungkinkan terdiri dari guru, pustakawan, dan karyawan. Guru berperan sebagai mediator antara perpustakaan-kepala sekolah, perpustakaan-guru, dan perpustakaan-siswa. Pustakawan berperan untuk melaksanakan kegiatan perpustakaan seperti pengadaan, pencatatan, klasifikasi, pengkatalogan, penjajaran, pengawetan, dan pemberdayaan perpustakaan. Karyawan yang terdiri dari tenaga administrasi bertugas melaksanakan kegiatan administrasi dan membantu pelaksanaan kegiatan administrasi pada umumnya seperti pelabelan, sirkulasi, pembuatan statistik dan lainnya.[29]
c.       Actuiting (penggerakan)
Penggerakan (actuating) dijalankan setelah adanya rencana dan pengorganisasian, sebab penggerakan merupakan pelaksanaan atas hasil-hasil  perencanaan dan pengorganisasian.
Fungsi penggerakkan merupakan fungsi manajerial yang sangat penting, karena secara langsung berkaitan dengan manusia dengan segala jenis kepentingan dan keutuhannya. Dengan demikian penggerakkan merupakan tanggung jawab pimpinan perpustakaan, dan peran seorang pemimpin diperlukan dalam mendorong staf yang dipimpinnya.
d.      Controlling (pengawasan)
Istilah pengawasa di beberapa literatur sering disebut evaluation, appresing, atau correcting. Pengawasan merupakan proses untuk “menjamin” bahwa tujuan organisasi (perpustakaan sekolah) dan manajemen tercapai. Oleh karena itu, pengawasan dapat dilaksanaakan pada proses perencanaan, pengorganisasian, personalia, pengarahan, dan penganggaran. Perpustakaan sekolah sebagai organisasi dan sistem informasi perlu memiliki mekanisme pengawasan yang efektif.
Pemanfaaatan perpustakaan juga membutuhkan pengawasan dari kepala sekolah dan pengelola perpustakaan. Manajer mempunyai tugas membantu para pegawai dalam mengelola perpustakaan agar sesuai harapan. Di sini kepala sekolah mempunyai tugas mengawasi setiap warga sekolah dalam memanfaatkan perpustakaan bagi kebutuhan pembelajaran, muali dari penentuan kebutuhan hingga pengurusan dan pencatatan serta penghapusan.[30]
3.      Pengelolaan Perpustakaan
Dalam pengelolaan perpustakaan terdapat beberapa hal yang paling mendasar seperti:
a.       Penyusunan dan penyimpanan buku dan kartu katalog
1)      Penyimpanan buku perpustakaan
a)      Rak buku
Untuk penyimpanan dalam jangka waktu lama, buku sebaiknya disimpan di rak buku tertutup dan terbebas dari debu atau kotoran. Agar tetap mudah dilihat, penutup rak sebaiknya dari kaca atau plastik. Jika rak kita terbuka, tempatkan di lokasi yang tidak mudah terkena debu, kotoran dan air. Pastikan rak tidak tertutup sangat rapat guna menghindarkan lembab, sebab jika tidak ada sirkulasi udara, buku jadi mudah berlumut atau berjamur. Disarankan agar rak atau lemari buku yang tertutup sering dibuka minimal 1 minggu sekali agar sirkulasi udara baik.
Bagi yang memiliki rak buku dari kayu, pastikan rak tersebut cukup kokoh dan kuat menahan beban buku-buku yang berat dan banyak. Jangan lupa untuk memastikan kayunya diberi lapisan anti rayap, sekaligus untuk menghindari keluarnya uap asam dari kayu yang bisa merusak buku.
Jangan menyimpan buku di dalam kardus, sebab kardus mengandung asam yang bisa mengenai buku kita dan merusaknya. Buku-buku yang disimpan di dalam kardus akan mudah menguning dan lama-kelamaan akan rusak atau lapuk.
Rak buku yang kita pilih bentuknya bisa bermacam-macam, tidak mutlak harus dari kayu atau besi. Barang-barang apa saja bisa dimanfaatkan kembali menjadi rak dengan kreatifitas dan selera masing-masing. Akan lebih baik jika level paling bawah rak memiliki sedikit jarak dengan lantai, tidak melekat pada lantai guna memperoleh sirkulasi udara yang baik, juga untuk menghindarkan dasar rak agar tidak mudah lembab atau terkena genangan air.
b)      Kondisi ruangan
Jika ruang baca atau perpustakaan kita bersebelahan langsung dengan bagian luar rumah, rak buku juga sebaiknya tidak menempel ke dinding. Beri sedikit jarak dengan dinding beberapa sentimeter agar kelembaban dan suhu luar yang berubah-ubah tidak merusak buku kita.
Buku lebih menyukai cahaya yang redup dan bahkan gelap, jadi sebaiknya letakkan rak buku di tempat yang terhindar dari cahaya dan sorotan sinar matahari langsung atau cahaya lampu lainnya, terutama yang mengandung ultra violet (UV). Buku akan mudah rusak jika terlalu sering terkena UV dan warna buku akan memudar.
Ruang tempat menyimpan buku yang ideal adalah yang tidak terlalu panas dan tidak terlalu lembab. Suhu dan kelembaban yang terlalu tinggi bisa menghasilkan reaksi asam dan membuat kertas menjadi busuk. Kelembaban di atas 60% akan membuat kertas menjadi lembek dan menyebabkan pembusukan asam, sementara kelembaban di bawah 40% akan membuat kertas menjadi rapuh dan kering.
Suhu sekitar 20 derajat C dan kelembaban sekitar 50% sering dianggap lingkungan yang ideal buat buku. Hindari juga suhu dan kelembaban yang fluktuatif (naik turun cukup tinggi), sebab bisa menyebabkan kerusakan buku. Itu sebabnya lebih sering disarankan agar buku disimpan di ruangan ber-AC untuk mengendalikan pengaturan suhu dan kelembabannya.



2)      Penyusunan buku di perpustakaan
Menurut Noerhayati Soedibyo (1988: 47-48), untuk penyusunan buku-buku dan bahan lain dalam rak atau lemari dapat dipakai berbagai cara. Buku dapat dikelompokkan secara[31] :
a)      Buku dapat dikelompokkan menurut bahasa
b)      Menurut ukuran besar kecil buku
c)      Menurut jenis sampul
d)     Menurut warna sampul dan sebagainya.
Cara-cara ini dapat dipakai kalau jumlah buku baru ratusan bahkan mungkin dapat efektif jika koleksi itu paling banyak 2500 jilid, tetapi kalau lebih dari itu sistem improfisasi ini tidak akan memungkinkan pemakaian perpustakaan yang efisien lagi.
Tujuan mengatur buku dan bahan lainnya dalam perpustakaan ialah :agar pemakai mudah menemukan informasi yang diperlukan.
Dengan kata lain, agar para pemakai perpustakaan mudah menemukan informasi yang mereka perlukan : dalam buku mana halaman berapa.
Sulistyo Basuki (1991) mengatakan bahwa klasifikasi berasal dari kata Latin '"classis". Klasifikasi adalah proses pengelompokan, artinya mengumpulkan benda/entitas yang sama serta memisahkan benda/entitas yang tidak sama. Secara umum dapat dikatakan bahwa batasan klasifikasi adalah usaha menata alam pengetahuan ke dalam tata urutan sistematis. Towa P. Hmakotrda dan J.N.B. Tairas (1995) mengatakan bahwa klasifikasi adalah pengelompokan yang sistematis daripada sejumlah obyek, gagasan, buku atau benda-benda lain ke dalam kelas atau golongan tertentu berdasarkan ciri-ciri yang sama. Kalau kita simak dalam kehidupan sehari-hari klasifikasi sudah banyak dilakukan oleh manusia. Seperti di supermarket, di pasar, di toko buku, pedagang yang mengempokkan barang dagangannya yang sejenis dalam satu kelompok yang sama. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan pembeli dalam memilih kebutuhan yang diperlukan. Dalam bidang perpustakaan pengertian klasifikasi adalah penyusunan sistematis terhadap buku dan bahan pustaka lain, atau katalog, atau entri indeks berdasarkan subyek, dalam cara yang berguna bagi mereka yang membaca atau mencari informasi (Sulistyo-Basuki: 1991). Dari pengertian ini klasifikasi mempunyai fungsi yaitu: sebagai tata penyusunan buku di jajaran rak, serta sebagai sarana penyusunan entri bibliografis pada katalog, bibliografi dan indeks dalam tata susunan yang sistematis. Sebagai sarana penyusunan buku di jajaran (rak), klasifikasi mempunyai dua keuntungan, yaitu:
(a) Membantu pemakai jasa perpustakaan mengidentifikasi dan melokalisasi bahan pustaka berdasarkan nomor panggil dokumen.
(b) Mengelompokkan bahan pustaka sejenis menjadi satu jajaran atau berdekatan. Dua keuntungan tersebut sangat dimungkinkan karena dalam penentuan klas, pendekatan yang digunakan adalah pendekatan subyek atau cakupan bidang ilmu dari suatu bahan pustaka. Tujuan klasifikasi adalah untuk mengorganisasikan bahan pustaka dengan sistem tertentu sehingga mudah diketemukan dan dikembalikan pada tempat penyimpanan.
Adapun tujuan tersebut dapat dirinci sebagai berikut:
(a) menghasilkan urutan yang berguna tujuan utama klasifikasi adalah menghasilkan urutan atau susunan bahan pustaka yang berguna bagi staf perpustakaan maupun bagi pemakai perpustakaan.
(b) penempatan yang tepat
Bila bahan pustaka diperlukan pemakai, pustaka yang diinginkan mudah diketemukan serta mudah dikembalikan oleh petugas ke tempat yang pasti sesuai dengan sistem klasifikasi yang digunakan.
(c) penyusunan mekanis
Bahan pustaka baru mudah disisipkan di antara bahan pustaka yang sudah dimiliki. Demikian pula penarikan bahan pustaka (karena dipinjam) tidak akan mengganggu susunan bahan pustaka di jajaran.
3)      Penyusunan Kartu Katalog
Cara menyusun kartu catalog ada 2 macam, yaitu:
a)      Bagi kelompok kartu catalog pengarang, judul dan subjek, masing-masing disusun menurut urutan secara alfabetis daripada huruf-huruf nama pengarang, judul dan subjek.
b)      Bagi kelompok kartu catalog shelflist, disusun menurut urutan nomor penempatan ( call number ) yang tercantum pada sudut kiri atas, seperti halnya menyusun buku pada rak buku menurut urutan nomor penempatan yang tercantum pada label yang ditempelkan pada punggung buku.[32]
b.      Pengadaan, klasifikasi, pengeturan, dan pemeliharaan koleksi
Setelah menyadari pentingnya peran perpustakaan, baik sebagai sarana pelengkap pendidikan, maupun sebagai sumber belajar, maka di rasa perlu untuk mengetahui dasar-dasar pengelolaan perpustakaan. Pada prinsipnya pengelolaan perpustakaan adalah sebagai berikut:
1)      Pengadaan bahan-bahan pustaka
Bahan-bahan pustaka adalah buku-buku, surat kabar, majalah, peta, globe, radio, tape recorder, kaset, disk, film slide projector, film strip projector dan sebagainya pengadaan bahan-bahan pustaka bisa diperoleh dengan cara pembelian , hadiah dari perseorangan atau badan usaha atau instansi terkait, pinjaman dari perseorangan atau lembaga terkait, tukar menukar dengan perpustakaan lain, dan cara lain yang dibenarkan dalam etika ilmu pengetahuan. Semakin banyak koleksi bahan pustaka, akan semakin tinggi kualitas perpustakaan itu sendiri. Bahan pustaka yang telah menjadi milik sebuah perpustakaan harus diinventarisir kemudian distempel dengan stempel perpustakaan tersebut, kemudian diberi kode atau nomor inventaris. Seluruh aset pustaka memerlukan perawatan yang teratur, bersistem, dan bersinambungan.
2)      Klasifikasi
Klasifikasi dalam hal ini adalah proses memiliih dan mengelompokkan buku-buku perpustakaan atau bahan pustaka lainnya atas dasar tertentu serta diletakkan secara bersama-sama di suatu tempat. klasifikasi sangat penting untuk mempermudah pengguna, pustakawan, dan guru dalam menemukan bahan pustaka yang dibutuhkan. Pengklasifikasian bisa berdasarkan: abjad nama pengarang, subjek, abjad judul buku, kegunaan buku, nama penerbit, bentuk fisik, subjek isi buku, dan bahasa. Pengklasifikasian yang paling sering digunakan dalam perpustakaan lembaga pendidikan adalah dengan sistem subyek.
3)      Pengaturan dan Pemeliharaan Bahan Pustaka
Pengaturan berarti penyusunan dan penyimpanan bahan pustaka, sehingga memudahkan pengambilan dan pengembaliannya. Untuk mempermudah pengaturan, maka setiap bahan pustaka harus dilengkapi dengan label atau nomor seri, kartu katalog beserta kantongnya, dan slip tanggal.
Pemeliharan berarti menjaga keberadaan koleksi bahan pustaka agar tetap utuh, tidak rusak, tidak kotor, tidak hilang, tersusun rapi di tempatnya masing-masing, serta diusahakan untuk selalu bertambah. Perbaikan juga berarti memperbaiki koleksi bahan pustaka yang rusak, mengganti yang hilang serta meperbanyak jumlah eksemplarnya.


c.       Katalogisasi
Katalogisasi adalah suatu proses mengkatalog bahan-bahan pustaka yang dimiliki oleh perpustakaan. Katalog merupakan suatu daftar yang berisi keterangan-keterangan yang lengkap (komprehensif) dari masing-masing koleksi perpustakaan. Keterangan yang tertera dalam katalog adalah judul buku, nama pengarang, edisi atau jilid (kalau ada), kota penerbitan, nama penerbit, tahun terbit, jumlah eksemplar, dan sebagainya. Daftar katalog tersimpan dalam almari khusu katalog , atau kalau memungkinkan dengan menggunakan sistem katalog komputer dengan memakian sistem perangkat lunak DBMS (Data Base Management System) dan sebagainya.
1)      Penyimpanan Katalog
a)      Pada umumnya tempat untuk menyimpan kartu-kartu catalog perpustakaan ialah almari catalog ( catalog drawer).
b)      Almari catalog, ialah almari khusus hanya terdiri dari laci-laci kecil yang masing-masing cukup untuk menyimpan baratus-ratus kartu catalog. Dan untuk bentuk dan ukuran tinggi, panjang dan lebarnya ada berbagai macam-macam.
c)      Sesuai dengan banyaknya macam kartu catalog di mana untuk setiap buku paling sedikit dibuatkan 4 macam kartu catalog, maka paling sedikit perpustakaan harus memiliki dua almari catalog.
d)     Dengan demikian cara menyimpan kartu-kartu catalog di perpustakaan dapat dilakukan dengan cara mengelompokkan ke dalam kelompoknya masing-masing, yaitu:
(1)   Kelompok kartu catalog pengarang
(2)   Kelompok kartu catalog judul
(3)   Kelompok kartu catalog subjek
(4)   Kelompok kartu katlog shelflist.
Selanjutnya masing-masing kelompok tersebut disimpan dalam almari catalog sendiri-sendiri.
e)      Dengan cara tersebut maka 3 kelompok kartu catalog ( pengarang, judul, dan subjek) dapat dipergunakan untuk melayani para pengunjng perpustakaan dan 1 kelompok kartu catalog (shelflist) dapat dipergunakan untuk keperluan intern perpustakaan.
f)       Oleh karena itu, 3 almari kelompok kartu catalog (pengarang, judul, dan  subjek) ditempatkan di dekat meja sirkulasi (pelayanan pengunjung) dan 1 almari catalog yang berisi kelompok kartu catalog shelflist perlu ditempatkan di ruang kerja perpustakaan.
d.      Evaluasi pengolahan perpustakaan
Didalam evaluasi pengelolaan perpustakaan terdapat beberapa yang harus dievaluasi, diantaranya :
1)      Analisis Kebutuhan
Untuk merumuskan program pengembangan perpustakaan setiap awal tahun pelajaran hendaknya dilakukan analisis kebutuhan  perpustakaan atau tuntutan kurikulum, khususnya kebutuhan referensi dan sarana. Prosesnya pustakawan membuat usulan pengadaan buku/referensi, sarana, dan fasilitas  yang diperlukan untuk tahun ajaran tersebut. Usulan tersebut didasarkan atas masukan guru-guru dan siswa-siswa ketika di perpustakaan melalui kotak saran dan juga perlu dilakukan pemberian kuesioner.
2)      Tingkat pendayagunaan perpustakaan
Beberapa siswa enggan meminjam buku di perpustakaan karena mereka sudah memiliki semua referensi yang dibutuhkan karena usah sendiri, selain membeli juga ada yang mendownload di internet. Hal ini yang menyebabkan target pemanfaatan perpustakaan tidak sesuai dengan yang diharapkan.
Sebagai evaluasi diatas, seharusnya guru tidak hanya mewajibkan siswa membaca buku paket saja, melainkan juga buku referensi penunjang yang buku tersebut harus disiapkan oleh staf perpustakaan. Hal ini perlu dilakukan agar pengetahuan siswa tentang materi pelajaran yang telah dipelajarinya dapat bertambah luas.
3)      Koleksi sumber belajar
Kemampuan sekolah yang belum memenuhi kebutuhan koleksi referensi biasanya buku yang dipesan belum sampai ke perpustakaan karena masalah distribusi, pengelola perpustakaan belum melakukan analisis pemakai dan kebutuhan pemakai. Analisis ini bertujuan untuk mengembangkan koleksi di perpustakaan demi tersedianya kebutuhan informasi yang mutakhir dan relevan dengan kebutuhan pemakai. Analisis kebutuhan pemakai yang selama ini dilakukan hanya melalui pengisian kotak saran saja.
Oleh karena itu, hendaknya pihak perpustakaan melakukan tindakan tegas kepada distributor yang terlambat dalam memenuhi referensi yang telah dipesan. Hal ini diperlukan agar siswa dan guru tidak dirugikan oleh distributor buku karena keterlambatan buku yang telah dipesannya. Selain itu pengelola perpustakaan hendaknya melakukan analisis pemakai dan kebutuhan pemakai. Analisis pemakai akan  menghasilkan karakteristik pemakai, sedangkan analisis kebutuhan pemakai akan menghasilkan jenis informasi pemakai. Apabila hal ini dilakukan, maka tingkat pemenuhan kebutuhan koleksi perpustakaan potensial meningkat. Hal ini berarti jumlah keanggotaaHal ini berarti jumlah keanggotaan, pengunjung, pembaca, dan peminjaman, pengunjung, pembaca, dan peminjam note boneote bone juga meningkat.
4)      Jumlah anggota, pengunjung, dan peminjam
Dalam meningkatkan jumlah anggota, pengunjung, dan peminjam perpustakaan meningkat diperlukan daya tarik khusus, selain melakukan pendidikan pemakai, analisis pemakai dan kebutuhan pemakai,  perlu adanya pemasangan zona Wifi di lingkunagn perpustakaan, sehingga pengunjung dapat menggunakan laptop untuk menggunakan internet dengan bebas biaya. Sumber-sumber belajar mampu diakses dan diunduh tanpa banyak memakan waktu.
5)      Kualitas dan kecepatan pelayanan Staf perpustakaan
Dalam hali ini, biasanya sering terjadi pengunjung banyak mengalami kekecewaan mengenai pelayanan dan kualitas staf perpustakaan. Oleh karena itu, hal ini harus ditangani dengan merekrut staf perpustakaan dengan tingkat pendidikan minimal DIII. Juga pelatihan-pelatihan bagi staf perpustakaan harus ditingkatkan, seperti melakukan pelatihan (diklat) peningkatan kemampuan pengelolaan perpustakaan terutama pengelolaan yang berbasis komputer dan sistem jaringan internet.
Kualitas pelayanan dalam hal tersebut meliputi :
a)         Pelayanan bimbingan pemakai perpustakaan
b)        Pelayanan pembinaan minat baca
c)         Pelayanan peminjaman dan pengembalian buku

B.     MINAT BACA
1.      Pengertian Minat Baca
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, minat adalah kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu; gairah;  keingian[33]. Sedangkan menurut Muhibbin Syah secara sederhana, minat (interest) berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu.[34]
Minat membaca adalah kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap kegiatan membaca. Minat (keinginan, kemauan, motivasi) dan keterampilan membaca yang baik dan secara efisien, yang telah berkembang dan membudaya secara maksimal dalam diri seseorang. Kenyataannya semakin banyak anak membaca, mereka semakin nyaman dengan bahan-bahan bacaan dan akan menjadikan membaca sebagai kebiasaan.[35]
Sementara pengertian minat baca sendiri menurut Farida Rahim ialah keinginan yang kuat disertai usaha-usaha seseorang untuk membaca.[36] Sedangkan menurut Darmono minat baca adalah kecenderungan jiwa yang mendorong seseorang berbuat sesuatu terhadap membaca.[37]
Kegiatan membaca pada dasarnya merupakan suatu aktivitas yang memerlukan keterampilan tersendiri. Seseorang yang membaca haruslah menggerakkan mata dan menggunakan pikiran, tanpa itu orang tidak akan membaca dengan baik.
2.      Faktor faktor yang mempengaruhi minat baca
Ada bebrapa faktor yang mampu meningkatkan minat baca siswa atau masyarakat. Faktor tersebut adalah:
a.       Rasa ingin tahu terhadap fakta, teori, prinsip, pengetahuan, dan informasi.
b.      Keadaan lingkungan fisik yang memadahi, tersedianya bahan bacaan yang menarik dan beragam.
c.       Keadaan sosial yang mendukung, adanya iklim atau waktu tertentu yang selalu dimanfaatkan untuk membaca.
d.      Rasa haus akan informasi, rasa ingin tahu terhadap hal yang aktual.
e.       Memiliki prinsip bahwa membaca merupakan kebutuhan rohani.
Faktor-faktor tersebut dapat terpelihara melalui sikap-sikap, bahwa dalam diri tertanam dengan membaca akan memperoleh informasi, keuntungan ilmu pengetahuan, wawasan atau pengalaman, dan kearifan.[38]
C.     PENGARUH MANAJEMEN PERPUSTAKAAN TERHADAP MINAT BACA
Perpustakaan yang lengkap dan dikelola dengan baik memungkinkan peserta didik untuk lebih mengembangkan dan mendalami pengetahuan yang diperolehnya di kelas melalui belajar mandiri, baik pada waktu-waktu kosong di sekolah maupun di rumah. Dengan adanya perpustakaan sekolah, para siswa dan guru selalu sadar bahwa dunia mereka tidak hanya terbatas di ruang kelas saja, pengetahuan dan pengalaman mereka akan luas jika mereka bisa memanfaatkan peprustakaan sekolah sebagai wahana meningkatkan minat baca siswa.[39]
Salah satu penyebab perpustakaan kita sepi pemakai adalah masyarakat kita belum memiliki budaya baca yang tinggi. Padahal membaca merupakan persyaratan yang sangat penting dan mendasar yang harus dimiliki oleh setiap warga negara apabila kita ingin menjadi bangsa yang maju. Melalui budaya membaca mutu pendidikan kita bisa ditingkatkan sehingga pada gilirannya dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia.[40]
Jadi salah satu cara yang harus kita lakukan untuk membuat perpustakaan kita tidak kesepian adalah dengan melakukan pembinaan fasilitas dan koleksi perpustakaan. Buku-buku yang menjadi koleksi peprustakaan harus diusahakan selalu baru. Penataan ruang dibuat semenarik mungkin. Bahkan kalau perlu ditata meniru penataan di swalayan. Barangkali dengan penataan demikian akan mengundang para remaja untuk nongkrong di perpustakaan, tidak lagi di swalayan. Selain itu perpustakaan harus gencar melakukan promosi perpustakaan.[41]





[18] Andi Prastowo, Manajemen Perpustakaan Sekolah Profesional, (Jogjakarta: DIVA Press, 2012), 19-20.
[19] Kompri, Manajemen Sekolah Teori & Praktik, 3.
[20] U. Saefullah, Manajemen Pendidikan Islam, 3.
[21] Wiji Suwarno, Pengetahuan Dasar Kepustakaan, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2010, 31
[22] Pusat  Bahasa Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat, (Jakarta: Gramedia, 2008), 1121.
[23] Jamal Ma’mur Asmani, Manajemen Pengelolaan dan Kepemimpinan Pendidikan Profesional, (Jogjakarta: DIVA Press, 2009),  47-48.
[24] Jamal Ma’mur Asmani, Manajemen Pengelolaan dan Kepemimpinan Pendidikan Profesional, 48.
[25] Ara Hidayat dan Imam Mahali, Pengelolaan Pendidikan, (Bandung: Pustaka Eduka, 2010), 22.
[26] Lasa Hs, Manajemen Perpustakaan Sekolah, (Yogyakarta: Pinus, 2007), 24.
[27] Andi Prastowo, Manajemen Perpustakaan Sekolah Profesional, 87.
[28] Kompri, Manajemen  Sekolah Teori & Praktek, 105.
[29] Lasa Hs., Manajemen Perpustakaan Sekolah, 38.
[30] Kompri, Manajemen Sekolah Teori & Praktek, 113.
[31] http://disafa-casafa.blogspot.com/2011/11/peran-perpustakaan.html
[32] Books.google.co.id
[33] Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka: 2005), 744 
[34] Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, (Jakarta: Rajawai Pers, 2009), 152.
[35] Kompri, Manajemen Sekolah Teori & Praktek, 99.
[36] Farida Rahim, Pengajaran Membaca di Sekolah Dasar,(Jakarta: Bumi Aksara, 2011), 28.
[37] Darmono, Manajemen dan Tata Kerja Perpustakaan Sekolah, (Jakarta: PT Grasindo, 2004), 182.
[38]  Sutarno NS, Perpustakaan dan Masyarakat, (Jakarta: Anggota IKAPI, 2006), hlm 29
[39] Kompri, Manajemen Sekolah, 99.
[40] Abdul Rahman Saleh, Percikan Pemikiran Di Bidang Kepustakawanan, (Jakarta: Sagung Seto, 2011), 151.
[41] Abdul Rahman Saleh, Percikan Pemikiran, 153.

0 komentar:

Posting Komentar