A. MANAJEMEN
PERPUSTAKAAN
1. Pengertian
Manajemen Perpustakaan
Sebelum
kita membahas lebih jauh tentang manajemen perpustakaan secara keseluruhan,
penulis akan menjelaskan terlebih dahulu tentang manajemen itu sendiri menurut
para pakar.
Banyak ahli
yang telah mengupas makna dari istilah manajemen. Menurut Samsudin,
kata manajemen berasal dari bahasa inggris yaitu management yang berarti mengatur atau
mengelolah. James F.Stoner menyebutkan bahwa manajemen adalah proses
perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan para anggota dan
sumberdaya lainnya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.[18]
Manajemen dapat juga dipandang
sebagai profesi karena manajemen dilandasi oleh keahlian khusus untuk
mencapaisuatu profesi di mana manajer dan tenaga profesional dituntut oleh
suatu kode etik untuk mengarahkan suatu organisasi untuk mencapai tujuan.
Bahkan kesuksesan organisasi sangat ditentukan dengan pemanduan semua sumber
daya oleh seorang pemimpin yang profesional. Georgi R. Terry (1997: 4)
mendefinisi tentang manajemen sebagai berikut: management is a distinct
process consisting of planing, organizing, actuating, and controlling performed
to determine and accomplish state objectivie by the use human being and another
resouces (manajemen adalah suatu proses yang khas terdiri dari
tindakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pengendalian
yang dilakukan dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan melalui pemanfaatan
sumberdaya manusia dan sumber-sumber lainnya).[19]
Dalam Encylopedia of the Social
Sience dikatakan bahwa manajemen adalah proses pelaksanaan program untuk
mencapai tujuan tertentu yang diselengarakan dan diawasi.[20]
Sementara
itu dalam pandangan Sulistyo Basuki, perpustakaan adalah sebuah ruangan, bagian
sebuah gedung, ataupun gedung yang digunakan untuk menyimpan buku dan terbitan
lainnya. Biasanya, buku tersebut disimpan menurut tata susunan terrtentu untuk
digunakan oleh pembaca, bukan untuk dijual.[21]
Sebagai
sebuah istilah, perpustakaan dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia artinya tempat, gedung, ruang yang disediakan untuk
pemeliharaan dan penggunaan koleksi buku dan sebagainya. Atau arti kedua, yaitu
koleksi buku, majalah dan bahan kepustakaan lain yang disimpan untuk dibaca,
dipelajari, dan dibicarakan.[22]
Sedangkan
menurut kamus The Oxford English
Dictionary, kata library atau
perpustakaan mulai digunakan dalam bahasa inggris pada tahun 1374, yang berarti
sebagai suatu tempat buku-buku diatur untuk dibaca, dipelajari atau dipakai
sebagai bahan rujukan.
Pengertian
perpustakaan ini pada abad ke-19 berkembang menjadi suatu gedung, ruangan atau
sejumlah ruangan yang berisi koleksi buku yang dipelihara dengan baik, dapat
digunakan oleh masyarakat tertentu.[23]
Pada
tahun 1970, The American Library
Association menggunakan istilah perpustakaan untuk suatu pengertian yang
luas yaitu termasuk pengertian pusat media, pusat belajar, pusat sumber
pendidikan, pusat informasi, pusat dokumentasi, dan pusat rujukan.
Pengertian
perpustakaan yang mutakhir ini telah mengarah kepada tiga hal yang mendasar
sekaligus, yaitu hakikat perpustakaan sebagai salah satu sarana pelestarian
bahan pustaka; fungsi perpustakaan sebagai sumber informasi ilmu pengetahuan,
teknologi, dan kebudayaan; serta bertujuan sebagai sarana untuk mencerdaskan
kehidupan bangsa dan menunjang pembangunan nasional.[24]
Dari
pengertian-pengertian tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa manajemen
perpustakaan adalah proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber daya
lainnya untuk dapat mengelola bahan pustaka baik berupa buku maupun non buku
sehingga dapat digunakan sebagai bahan informasi oleh setiap pemakainya.
2. Fungsi
Manajemen Perpustakaan
Seperti
yang telah diketahui bersama dari pengertian manajemen perpustakaan maka dapat diketahui fungsi dari manajemen
perpustakaan itu sendiri, yaitu:
a. Planing (perencanaan)
Perencanaan
merupakan titik awal berbagai aktivitas organisasi yang sangat menentukan
keberhasilan organisasi. Menurut Ara Hidayat dan Imam Mahali, perencanaan merupakan fungsi
yang paling awal dari keseluruhan fungsi manajemen sebagaimana banyak
dikemukakan oleh para ahli.[25]
Pentingnya
perencanaan bagi suatu perpustakaan sekolah disebabkan karena hal-hal berikut:
1)
Perencanaan
merupakan dasar pelaksanaan aktivitas. Pimpinan perpustakaan tidak akan mampu
melaksanakan fungsi manajemen dan kepemimpinan dengan baik tanpa perencanaan
yang sudah ditetapkan.
2)
Perencanaan
merupakan alat pengawasan. Pengawasan sebenarnya merupakan upaya sistematis
untuk menetapkan standar prestasi sesungguhnya dengan standar yang telah
ditetapkan. Dengan adanya perencanaan akan diketahui adanya penyimpangan
langkah yang kemudian dapat dilakukan pengukuran signifikasi penyimpangan
itu. Oleh karena itu pengawasan harus
didasarkan pada perencanaan. Perencanaan yang jelas, lengkap, dan terpadu akan
mampu meningkatkan efektivitas pengawasan.
3)
Perencanaan yang
proporsional akan membawa efektivitas dan efisiensi. Dengan adanya perencanaan,
seorang pimpinan perpustakaan akan berusaha untuk mencapai tujuan dengan biaya
yang paling kecil dan menghasilkan produk (barang dan/atau jasa) yang lebih
besar.[26]
b. Organizing (pengorganisasian)
Proses
pengorganisasian suatu perpustakaan akan berjalan dengan baik apabila memiliki
sumber daya, sumber dana, prosedur, koordinasi, dan pengarahan pada
langkah-langkah tertentu. Koordinasi di sini maknanya adalah proses
pengintegrasian tujuan-tujuan pada satuan yang terpisah dalam suatu lembaga
untuk mencapai tujuan lembaga atau perpustakaan secara efisien.[27]
Pengorganisasian
merupakan penyatuan langkah dari seluruh kegiatan yang akan dilaksanakan. Penyatuan langkah ini
sangat penting, agar tidak terjadi tumpang tindih dalam pelaksanaan tugas.
Proses mengorganisasikan sebuah perpustakaan akan berjalan dengan baik apabila
memiliki SDM, sumber dana, prosedur, dan adanya koordinasi pada langkah-langkah
tertentu untuk mencapai pelaksanaan yang harmonis. Kemudian pengarahan
merupakan penugasan untuk mengambil tindakan tertentu yang tertuju pada usaha
pencapaian tujuan perpustakaan sekolah. Untuk itu dibutuhkan seorang pimpinan
perpustakaan yang perpengetahuan dan berwawasan luas dalam bidang perpustakaan
sekolah untuk memberikan pengarahan yang jelas pada sasaran.[28]
Sumber
daya manusia perpustakaan sekolah dimungkinkan terdiri dari guru, pustakawan,
dan karyawan. Guru berperan sebagai mediator antara perpustakaan-kepala
sekolah, perpustakaan-guru, dan perpustakaan-siswa. Pustakawan berperan untuk
melaksanakan kegiatan perpustakaan seperti pengadaan, pencatatan, klasifikasi,
pengkatalogan, penjajaran, pengawetan, dan pemberdayaan perpustakaan. Karyawan
yang terdiri dari tenaga administrasi bertugas melaksanakan kegiatan
administrasi dan membantu pelaksanaan kegiatan administrasi pada umumnya
seperti pelabelan, sirkulasi, pembuatan statistik dan lainnya.[29]
c. Actuiting (penggerakan)
Penggerakan (actuating) dijalankan
setelah adanya rencana dan pengorganisasian, sebab penggerakan merupakan
pelaksanaan atas hasil-hasil perencanaan
dan pengorganisasian.
Fungsi penggerakkan merupakan fungsi
manajerial yang sangat penting, karena secara langsung berkaitan dengan manusia
dengan segala jenis kepentingan dan keutuhannya. Dengan demikian penggerakkan
merupakan tanggung jawab pimpinan perpustakaan, dan peran seorang pemimpin
diperlukan dalam mendorong staf yang dipimpinnya.
d. Controlling (pengawasan)
Istilah
pengawasa di beberapa literatur sering disebut evaluation, appresing, atau
correcting. Pengawasan merupakan proses untuk “menjamin” bahwa tujuan
organisasi (perpustakaan sekolah) dan manajemen tercapai. Oleh karena itu,
pengawasan dapat dilaksanaakan pada proses perencanaan, pengorganisasian,
personalia, pengarahan, dan penganggaran. Perpustakaan sekolah sebagai
organisasi dan sistem informasi perlu memiliki mekanisme pengawasan yang
efektif.
Pemanfaaatan
perpustakaan juga membutuhkan pengawasan dari kepala sekolah dan pengelola
perpustakaan. Manajer mempunyai tugas membantu para pegawai dalam mengelola
perpustakaan agar sesuai harapan. Di sini kepala sekolah mempunyai tugas
mengawasi setiap warga sekolah dalam memanfaatkan perpustakaan bagi kebutuhan
pembelajaran, muali dari penentuan kebutuhan hingga pengurusan dan pencatatan
serta penghapusan.[30]
3. Pengelolaan
Perpustakaan
Dalam
pengelolaan perpustakaan terdapat beberapa hal yang paling mendasar seperti:
a. Penyusunan
dan penyimpanan buku dan kartu katalog
1)
Penyimpanan buku perpustakaan
a)
Rak buku
Untuk penyimpanan dalam jangka waktu lama, buku
sebaiknya disimpan di rak buku tertutup dan terbebas dari debu atau kotoran.
Agar tetap mudah dilihat, penutup rak sebaiknya dari kaca atau plastik. Jika
rak kita terbuka, tempatkan di lokasi yang tidak mudah terkena debu, kotoran
dan air. Pastikan rak tidak tertutup sangat rapat guna menghindarkan lembab,
sebab jika tidak ada sirkulasi udara, buku jadi mudah berlumut atau berjamur.
Disarankan agar rak atau lemari buku yang tertutup sering dibuka minimal 1
minggu sekali agar sirkulasi udara baik.
Bagi yang memiliki rak buku dari kayu, pastikan rak
tersebut cukup kokoh dan kuat menahan beban buku-buku yang berat dan banyak.
Jangan lupa untuk memastikan kayunya diberi lapisan anti rayap, sekaligus untuk
menghindari keluarnya uap asam dari kayu yang bisa merusak buku.
Jangan menyimpan buku di dalam kardus, sebab kardus
mengandung asam yang bisa mengenai buku kita dan merusaknya. Buku-buku yang
disimpan di dalam kardus akan mudah menguning dan lama-kelamaan akan rusak atau
lapuk.
Rak buku yang kita pilih bentuknya bisa
bermacam-macam, tidak mutlak harus dari kayu atau besi. Barang-barang apa saja
bisa dimanfaatkan kembali menjadi rak dengan kreatifitas dan selera
masing-masing. Akan lebih baik jika level paling bawah rak memiliki sedikit
jarak dengan lantai, tidak melekat pada lantai guna memperoleh sirkulasi udara
yang baik, juga untuk menghindarkan dasar rak agar tidak mudah lembab atau
terkena genangan air.
b)
Kondisi ruangan
Jika ruang baca atau perpustakaan kita bersebelahan
langsung dengan bagian luar rumah, rak buku juga sebaiknya tidak menempel ke
dinding. Beri sedikit jarak dengan dinding beberapa sentimeter agar kelembaban
dan suhu luar yang berubah-ubah tidak merusak buku kita.
Buku lebih menyukai cahaya yang redup dan bahkan
gelap, jadi sebaiknya letakkan rak buku di tempat yang terhindar dari cahaya
dan sorotan sinar matahari langsung atau cahaya lampu lainnya, terutama yang
mengandung ultra violet (UV). Buku akan mudah rusak jika terlalu sering terkena
UV dan warna buku akan memudar.
Ruang tempat menyimpan buku yang ideal adalah yang
tidak terlalu panas dan tidak terlalu lembab. Suhu dan kelembaban yang terlalu
tinggi bisa menghasilkan reaksi asam dan membuat kertas menjadi busuk.
Kelembaban di atas 60% akan membuat kertas menjadi lembek dan menyebabkan
pembusukan asam, sementara kelembaban di bawah 40% akan membuat kertas menjadi
rapuh dan kering.
Suhu sekitar 20 derajat C dan kelembaban sekitar 50%
sering dianggap lingkungan yang ideal buat buku. Hindari juga suhu dan
kelembaban yang fluktuatif (naik turun cukup tinggi), sebab bisa menyebabkan
kerusakan buku. Itu sebabnya lebih sering disarankan agar buku disimpan di
ruangan ber-AC untuk mengendalikan pengaturan suhu dan kelembabannya.
2)
Penyusunan buku di perpustakaan
Menurut Noerhayati
Soedibyo (1988: 47-48), untuk penyusunan buku-buku dan bahan lain dalam rak
atau lemari dapat dipakai berbagai cara. Buku dapat dikelompokkan secara[31] :
a)
Buku dapat dikelompokkan menurut bahasa
b)
Menurut ukuran besar kecil buku
c)
Menurut jenis sampul
d)
Menurut warna sampul dan sebagainya.
Cara-cara ini dapat
dipakai kalau jumlah buku baru ratusan bahkan mungkin dapat efektif jika
koleksi itu paling banyak 2500 jilid, tetapi kalau lebih dari itu sistem
improfisasi ini tidak akan memungkinkan pemakaian perpustakaan yang efisien
lagi.
Tujuan mengatur buku
dan bahan lainnya dalam perpustakaan ialah :agar pemakai mudah menemukan
informasi yang diperlukan.
Dengan kata lain, agar
para pemakai perpustakaan mudah menemukan informasi yang mereka perlukan :
dalam buku mana halaman berapa.
Sulistyo Basuki (1991)
mengatakan bahwa klasifikasi berasal dari kata Latin '"classis".
Klasifikasi adalah proses pengelompokan, artinya mengumpulkan benda/entitas
yang sama serta memisahkan benda/entitas yang tidak sama. Secara umum dapat
dikatakan bahwa batasan klasifikasi adalah usaha menata alam pengetahuan ke
dalam tata urutan sistematis. Towa P. Hmakotrda dan J.N.B. Tairas (1995)
mengatakan bahwa klasifikasi adalah pengelompokan yang sistematis daripada
sejumlah obyek, gagasan, buku atau benda-benda lain ke dalam kelas atau
golongan tertentu berdasarkan ciri-ciri yang sama. Kalau kita simak dalam
kehidupan sehari-hari klasifikasi sudah banyak dilakukan oleh manusia. Seperti di
supermarket, di pasar, di toko buku, pedagang yang mengempokkan barang
dagangannya yang sejenis dalam satu kelompok yang sama. Hal ini dimaksudkan
untuk memudahkan pembeli dalam memilih kebutuhan yang diperlukan. Dalam bidang
perpustakaan pengertian klasifikasi adalah penyusunan sistematis terhadap buku
dan bahan pustaka lain, atau katalog, atau entri indeks berdasarkan subyek,
dalam cara yang berguna bagi mereka yang membaca atau mencari informasi
(Sulistyo-Basuki: 1991). Dari pengertian ini klasifikasi mempunyai fungsi
yaitu: sebagai tata penyusunan buku di jajaran rak, serta sebagai sarana
penyusunan entri bibliografis pada katalog, bibliografi dan indeks dalam tata
susunan yang sistematis. Sebagai sarana penyusunan buku di jajaran (rak),
klasifikasi mempunyai dua keuntungan, yaitu:
(a) Membantu pemakai
jasa perpustakaan mengidentifikasi dan melokalisasi bahan pustaka berdasarkan
nomor panggil dokumen.
(b) Mengelompokkan
bahan pustaka sejenis menjadi satu jajaran atau berdekatan. Dua keuntungan
tersebut sangat dimungkinkan karena dalam penentuan klas, pendekatan yang
digunakan adalah pendekatan subyek atau cakupan bidang ilmu dari suatu bahan
pustaka. Tujuan klasifikasi adalah untuk mengorganisasikan bahan pustaka dengan
sistem tertentu sehingga mudah diketemukan dan dikembalikan pada tempat
penyimpanan.
Adapun tujuan tersebut
dapat dirinci sebagai berikut:
(a) menghasilkan
urutan yang berguna tujuan utama klasifikasi adalah menghasilkan urutan atau
susunan bahan pustaka yang berguna bagi staf perpustakaan maupun bagi pemakai
perpustakaan.
(b) penempatan yang
tepat
Bila bahan pustaka
diperlukan pemakai, pustaka yang diinginkan mudah diketemukan serta mudah
dikembalikan oleh petugas ke tempat yang pasti sesuai dengan sistem klasifikasi
yang digunakan.
(c) penyusunan mekanis
Bahan pustaka baru
mudah disisipkan di antara bahan pustaka yang sudah dimiliki. Demikian pula
penarikan bahan pustaka (karena dipinjam) tidak akan mengganggu susunan bahan
pustaka di jajaran.
3)
Penyusunan Kartu Katalog
Cara menyusun kartu catalog ada 2 macam,
yaitu:
a)
Bagi kelompok kartu catalog pengarang, judul
dan subjek, masing-masing disusun menurut urutan secara alfabetis daripada
huruf-huruf nama pengarang, judul dan subjek.
b)
Bagi kelompok kartu catalog shelflist, disusun
menurut urutan nomor penempatan ( call number ) yang tercantum pada sudut kiri
atas, seperti halnya menyusun buku pada rak buku menurut urutan nomor
penempatan yang tercantum pada label yang ditempelkan pada punggung buku.[32]
b. Pengadaan,
klasifikasi, pengeturan, dan pemeliharaan koleksi
Setelah menyadari
pentingnya peran perpustakaan, baik sebagai sarana pelengkap pendidikan, maupun
sebagai sumber belajar, maka di rasa perlu untuk mengetahui dasar-dasar
pengelolaan perpustakaan. Pada prinsipnya pengelolaan perpustakaan adalah
sebagai berikut:
1)
Pengadaan bahan-bahan pustaka
Bahan-bahan pustaka
adalah buku-buku, surat kabar, majalah, peta, globe, radio, tape recorder,
kaset, disk, film slide projector, film strip projector dan sebagainya
pengadaan bahan-bahan pustaka bisa diperoleh dengan cara pembelian , hadiah
dari perseorangan atau badan usaha atau instansi terkait, pinjaman dari
perseorangan atau lembaga terkait, tukar menukar dengan perpustakaan lain, dan
cara lain yang dibenarkan dalam etika ilmu pengetahuan. Semakin banyak koleksi
bahan pustaka, akan semakin tinggi kualitas perpustakaan itu sendiri. Bahan
pustaka yang telah menjadi milik sebuah perpustakaan harus diinventarisir
kemudian distempel dengan stempel perpustakaan tersebut, kemudian diberi kode
atau nomor inventaris. Seluruh aset pustaka memerlukan perawatan yang teratur,
bersistem, dan bersinambungan.
2)
Klasifikasi
Klasifikasi dalam hal
ini adalah proses memiliih dan mengelompokkan buku-buku perpustakaan atau bahan
pustaka lainnya atas dasar tertentu serta diletakkan secara bersama-sama di
suatu tempat. klasifikasi sangat penting untuk mempermudah pengguna,
pustakawan, dan guru dalam menemukan bahan pustaka yang dibutuhkan.
Pengklasifikasian bisa berdasarkan: abjad nama pengarang, subjek, abjad judul
buku, kegunaan buku, nama penerbit, bentuk fisik, subjek isi buku, dan bahasa.
Pengklasifikasian yang paling sering digunakan dalam perpustakaan lembaga
pendidikan adalah dengan sistem subyek.
3)
Pengaturan dan Pemeliharaan Bahan Pustaka
Pengaturan berarti
penyusunan dan penyimpanan bahan pustaka, sehingga memudahkan pengambilan dan
pengembaliannya. Untuk mempermudah pengaturan, maka setiap bahan pustaka harus
dilengkapi dengan label atau nomor seri, kartu katalog beserta kantongnya, dan
slip tanggal.
Pemeliharan berarti
menjaga keberadaan koleksi bahan pustaka agar tetap utuh, tidak rusak, tidak
kotor, tidak hilang, tersusun rapi di tempatnya masing-masing, serta diusahakan
untuk selalu bertambah. Perbaikan juga berarti memperbaiki koleksi bahan
pustaka yang rusak, mengganti yang hilang serta meperbanyak jumlah
eksemplarnya.
c. Katalogisasi
Katalogisasi adalah
suatu proses mengkatalog bahan-bahan pustaka yang dimiliki oleh perpustakaan.
Katalog merupakan suatu daftar yang berisi keterangan-keterangan yang lengkap
(komprehensif) dari masing-masing koleksi perpustakaan. Keterangan yang tertera
dalam katalog adalah judul buku, nama pengarang, edisi atau jilid (kalau ada),
kota penerbitan, nama penerbit, tahun terbit, jumlah eksemplar, dan sebagainya.
Daftar katalog tersimpan dalam almari khusu katalog , atau kalau memungkinkan
dengan menggunakan sistem katalog komputer dengan memakian sistem perangkat
lunak DBMS (Data Base Management System) dan sebagainya.
1)
Penyimpanan Katalog
a)
Pada umumnya tempat untuk menyimpan
kartu-kartu catalog perpustakaan ialah almari catalog ( catalog drawer).
b)
Almari catalog, ialah almari khusus hanya
terdiri dari laci-laci kecil yang masing-masing cukup untuk menyimpan
baratus-ratus kartu catalog. Dan untuk bentuk dan ukuran tinggi, panjang dan
lebarnya ada berbagai macam-macam.
c)
Sesuai dengan banyaknya macam kartu catalog di
mana untuk setiap buku paling sedikit dibuatkan 4 macam kartu catalog, maka
paling sedikit perpustakaan harus memiliki dua almari catalog.
d)
Dengan demikian cara menyimpan kartu-kartu
catalog di perpustakaan dapat dilakukan dengan cara mengelompokkan ke dalam
kelompoknya masing-masing, yaitu:
(1)
Kelompok kartu catalog pengarang
(2)
Kelompok kartu catalog judul
(3)
Kelompok kartu catalog subjek
(4)
Kelompok kartu katlog shelflist.
Selanjutnya masing-masing kelompok tersebut disimpan dalam
almari catalog sendiri-sendiri.
e)
Dengan cara tersebut maka 3 kelompok kartu
catalog ( pengarang, judul, dan subjek) dapat dipergunakan untuk melayani para
pengunjng perpustakaan dan 1 kelompok kartu catalog (shelflist) dapat dipergunakan
untuk keperluan intern perpustakaan.
f)
Oleh karena itu, 3 almari kelompok kartu
catalog (pengarang, judul, dan subjek)
ditempatkan di dekat meja sirkulasi (pelayanan pengunjung) dan 1 almari catalog
yang berisi kelompok kartu catalog shelflist perlu ditempatkan di ruang kerja
perpustakaan.
d. Evaluasi
pengolahan perpustakaan
Didalam
evaluasi pengelolaan perpustakaan terdapat beberapa yang harus dievaluasi,
diantaranya :
1) Analisis
Kebutuhan
Untuk
merumuskan program pengembangan perpustakaan setiap awal tahun pelajaran
hendaknya dilakukan analisis kebutuhan
perpustakaan atau tuntutan kurikulum, khususnya kebutuhan referensi dan
sarana. Prosesnya pustakawan membuat usulan pengadaan buku/referensi, sarana,
dan fasilitas yang diperlukan untuk
tahun ajaran tersebut. Usulan tersebut didasarkan atas masukan guru-guru dan
siswa-siswa ketika di perpustakaan melalui kotak saran dan juga perlu dilakukan
pemberian kuesioner.
2) Tingkat
pendayagunaan perpustakaan
Beberapa
siswa enggan meminjam buku di perpustakaan karena mereka sudah memiliki semua
referensi yang dibutuhkan karena usah sendiri, selain membeli juga ada yang mendownload
di internet. Hal ini yang menyebabkan target pemanfaatan perpustakaan tidak
sesuai dengan yang diharapkan.
Sebagai
evaluasi diatas, seharusnya guru tidak hanya mewajibkan siswa membaca buku
paket saja, melainkan juga buku referensi penunjang yang buku tersebut harus
disiapkan oleh staf perpustakaan. Hal ini perlu dilakukan agar pengetahuan
siswa tentang materi pelajaran yang telah dipelajarinya dapat bertambah luas.
3) Koleksi
sumber belajar
Kemampuan
sekolah yang belum memenuhi kebutuhan koleksi referensi biasanya buku yang
dipesan belum sampai ke perpustakaan karena masalah distribusi, pengelola
perpustakaan belum melakukan analisis pemakai dan kebutuhan pemakai. Analisis
ini bertujuan untuk mengembangkan koleksi di perpustakaan demi tersedianya
kebutuhan informasi yang mutakhir dan relevan dengan kebutuhan pemakai.
Analisis kebutuhan pemakai yang selama ini dilakukan hanya melalui pengisian
kotak saran saja.
Oleh
karena itu, hendaknya pihak perpustakaan melakukan tindakan tegas kepada
distributor yang terlambat dalam memenuhi referensi yang telah dipesan. Hal ini
diperlukan agar siswa dan guru tidak dirugikan oleh distributor buku karena keterlambatan
buku yang telah dipesannya. Selain itu pengelola perpustakaan hendaknya
melakukan analisis pemakai dan kebutuhan pemakai. Analisis pemakai akan menghasilkan karakteristik pemakai, sedangkan
analisis kebutuhan pemakai akan menghasilkan jenis informasi pemakai. Apabila
hal ini dilakukan, maka tingkat pemenuhan kebutuhan koleksi perpustakaan
potensial meningkat. Hal ini berarti jumlah keanggotaaHal ini berarti jumlah
keanggotaan, pengunjung, pembaca, dan peminjaman, pengunjung, pembaca, dan peminjam
note boneote bone juga meningkat.
4) Jumlah
anggota, pengunjung, dan peminjam
Dalam meningkatkan jumlah anggota,
pengunjung, dan peminjam perpustakaan meningkat diperlukan daya tarik khusus,
selain melakukan pendidikan pemakai, analisis pemakai dan kebutuhan
pemakai, perlu adanya pemasangan zona
Wifi di lingkunagn perpustakaan, sehingga pengunjung dapat menggunakan laptop
untuk menggunakan internet dengan bebas biaya. Sumber-sumber belajar mampu
diakses dan diunduh tanpa banyak memakan waktu.
5) Kualitas
dan kecepatan pelayanan Staf perpustakaan
Dalam
hali ini, biasanya sering terjadi pengunjung banyak mengalami kekecewaan
mengenai pelayanan dan kualitas staf perpustakaan. Oleh karena itu, hal ini
harus ditangani dengan merekrut staf perpustakaan dengan tingkat pendidikan
minimal DIII. Juga pelatihan-pelatihan bagi staf perpustakaan harus
ditingkatkan, seperti melakukan pelatihan (diklat) peningkatan kemampuan
pengelolaan perpustakaan terutama pengelolaan yang berbasis komputer dan sistem
jaringan internet.
Kualitas
pelayanan dalam hal tersebut meliputi :
a)
Pelayanan
bimbingan pemakai perpustakaan
b)
Pelayanan
pembinaan minat baca
c)
Pelayanan
peminjaman dan pengembalian buku
B. MINAT
BACA
1. Pengertian
Minat Baca
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, minat adalah
kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu; gairah; keingian[33].
Sedangkan menurut Muhibbin Syah secara sederhana, minat (interest)
berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar
terhadap sesuatu.[34]
Minat membaca adalah kecenderungan dan kegairahan
yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap kegiatan membaca. Minat
(keinginan, kemauan, motivasi) dan keterampilan membaca yang baik dan secara
efisien, yang telah berkembang dan membudaya secara maksimal dalam diri
seseorang. Kenyataannya semakin banyak anak membaca, mereka semakin nyaman
dengan bahan-bahan bacaan dan akan menjadikan membaca sebagai kebiasaan.[35]
Sementara pengertian minat baca sendiri menurut
Farida Rahim ialah keinginan yang kuat disertai usaha-usaha seseorang untuk
membaca.[36]
Sedangkan menurut Darmono minat baca adalah kecenderungan jiwa yang mendorong
seseorang berbuat sesuatu terhadap membaca.[37]
Kegiatan membaca pada dasarnya merupakan suatu
aktivitas yang memerlukan keterampilan tersendiri. Seseorang yang membaca
haruslah menggerakkan mata dan menggunakan pikiran, tanpa itu orang tidak akan
membaca dengan baik.
2. Faktor
faktor yang mempengaruhi minat baca
Ada bebrapa faktor yang
mampu meningkatkan minat baca siswa atau masyarakat. Faktor tersebut adalah:
a. Rasa
ingin tahu terhadap fakta, teori, prinsip, pengetahuan, dan informasi.
b. Keadaan
lingkungan fisik yang memadahi, tersedianya bahan bacaan yang menarik dan
beragam.
c. Keadaan
sosial yang mendukung, adanya iklim atau waktu tertentu yang selalu
dimanfaatkan untuk membaca.
d. Rasa
haus akan informasi, rasa ingin tahu terhadap hal yang aktual.
e. Memiliki
prinsip bahwa membaca merupakan kebutuhan rohani.
Faktor-faktor
tersebut dapat terpelihara melalui sikap-sikap, bahwa dalam diri tertanam
dengan membaca akan memperoleh informasi, keuntungan ilmu pengetahuan, wawasan
atau pengalaman, dan kearifan.[38]
C. PENGARUH
MANAJEMEN PERPUSTAKAAN TERHADAP MINAT BACA
Perpustakaan
yang lengkap dan dikelola dengan baik memungkinkan peserta didik untuk lebih
mengembangkan dan mendalami pengetahuan yang diperolehnya di kelas melalui
belajar mandiri, baik pada waktu-waktu kosong di sekolah maupun di rumah.
Dengan adanya perpustakaan sekolah, para siswa dan guru selalu sadar bahwa
dunia mereka tidak hanya terbatas di ruang kelas saja, pengetahuan dan pengalaman
mereka akan luas jika mereka bisa memanfaatkan peprustakaan sekolah sebagai
wahana meningkatkan minat baca siswa.[39]
Salah
satu penyebab perpustakaan kita sepi pemakai adalah masyarakat kita belum
memiliki budaya baca yang tinggi. Padahal membaca merupakan persyaratan yang
sangat penting dan mendasar yang harus dimiliki oleh setiap warga negara apabila
kita ingin menjadi bangsa yang maju. Melalui budaya membaca mutu pendidikan
kita bisa ditingkatkan sehingga pada gilirannya dapat meningkatkan kualitas
sumber daya manusia.[40]
Jadi
salah satu cara yang harus kita lakukan untuk membuat perpustakaan kita tidak
kesepian adalah dengan melakukan pembinaan fasilitas dan koleksi perpustakaan.
Buku-buku yang menjadi koleksi peprustakaan harus diusahakan selalu baru. Penataan
ruang dibuat semenarik mungkin. Bahkan kalau perlu ditata meniru penataan di
swalayan. Barangkali dengan penataan demikian akan mengundang para remaja untuk
nongkrong di perpustakaan, tidak lagi di swalayan. Selain itu perpustakaan
harus gencar melakukan promosi perpustakaan.[41]
[18] Andi
Prastowo, Manajemen Perpustakaan Sekolah
Profesional, (Jogjakarta: DIVA
Press, 2012), 19-20.
[22] Pusat Bahasa Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat,
(Jakarta: Gramedia, 2008), 1121.
[23] Jamal Ma’mur Asmani, Manajemen Pengelolaan dan Kepemimpinan
Pendidikan Profesional, (Jogjakarta: DIVA
Press, 2009), 47-48.
[33] Departemen
Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai
Pustaka: 2005), 744
[40] Abdul Rahman Saleh, Percikan
Pemikiran Di Bidang Kepustakawanan, (Jakarta: Sagung Seto, 2011), 151.






0 komentar:
Posting Komentar